UNTUK KITA

Dia bilang kemarin: sebaiknya jangan saling menghubungi, kalau memang mengganggu apa yang sedang kita kerjakan saat ini. Kita punya kepentingan masing-masing, dan sekadar berkabar tidak membuatku senang sebab sebenarnya kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang kita lakukan. Aku tidak ingin mengganggumu, dan aku juga paham kamu tidak ingin membiarkan dirimu mengganggu urusanku. Aku cuma tidak bisa melihatmu seolah memandangku sebelah mata. Aku tidak ingin melihatmu hidup bukan untukku. Dan jika memang bukan untukku, jangan bersikap seolah kamu ada untukku.

Dia meminta lagi: tolong jawab aku, bersikaplah untukku.

Aku diam. Sambungan telepon putus.
Semua yang dikatakannya, aku cukup memahaminya. Aku tidak pandai membagi waktu dan memprioritaskan semua hal. Aku memang tidak bersikap, jika diam tidak dihitung sebagai sebuah sikap.

Hubungan ini, rumpang yang tampak rampung. Yang seolah utuh, dalam lelah dan jemu, menjadi sakit bagi diri masing-masing.

Aku mau bertahan, seperti sebelum-sebelumnya.
Tapi aku telah hancur dan lebih pantas dipertanyakan daripada dipertahankan.

 

August 20, 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*